• Home
  • Economics
  • Social
    • Facebook
    • Instagram
  • Gallery
  • Pearl of Life
  • Wisdom
  • Contact Us

Goresan Tinta Zadid


Beberapa hari yang lalu sebuah ledakan bom telah menghantam kota Manchaster dalam konser Ariana Grande. Bom tersebut mengakibatkan setidaknya 22 orang tewas dan 50 orang lainnya terluka. Tentu berita ini menjadi sebuah noda hitam bagi sejarah Inggris. Peristiwa bom itu berbeda skalanya dengan bom yang meledak di kampung melayu yang telah mengakibatkan 3 orang tewas dan 11 orang luka-luka. Hanya karena ulah individu yang tak bertanggung jawab, menyebabkan kerusakan yang besar.

Tentu musibah bom di atas memiliki dampak ekonomi yang merugikan. Namun satu hal yang membahayakan dari musibah tersebut adalah anggapan asing yang bisa saja mempengaruhi perekonomian negara yang bersangkutan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kriminalitas memang menjadi sebuah pertimbangan seorang investor dalam menginvestasikan dananya. Namun menurut World Economic Forum, indeks kemudahan bisnis masih menjadi salah satu tolok ukur utama, disamping kriminalitas, yang mempengaruhi minat investor. Salah satu tolok ukur tersebut adalah tingkat kriminalitas yang terselubung, seperti korupsi, birokrasi yang efisien, infrastruktur, dan lain-lain.

Ernest dan Young menyimpulkan bahwa angka tingkat korupsi dan penyuapan di dunia meningkat dari 38% di tahun 2014 menjadi 39% di tahun 2016. Peningkatan tingkat kecurangan ini justru sangat dipengaruhi oleh peningkatan kecurangan yang ada di negara-negara maju dari 17% menjadi 21%. Sedangkan tingkat kecurangan di negara berkembang sedikit menurun meski masih di angka yang tinggi, yaitu 53% di tahun 2014 dan 51% di tahun 2016. Hal ini disebabkan karena korupsi dan suap-menyuap masih menjadi budaya yang kental di negara maju dan berkembang. Di samping itu, para staff senior selalu menghalalkan cara apapun demi mencapai target perusahaan. Tingkat kecurangan ini justru kecil di generasi milenial. Mereka akan kaget ketika melihat sistem yang korup dalam perusahaan dan kemudian pergi meninggalkannya.

Bukan hanya Indonesia yang memiliki inisiatif yang besar dalam menangani korupsi, tetapi juga Tiongkok dan India juga telah menginisiasi gerakan yang sama. Meski demikian para generasi muda masih mengakui bahwa korupsi dan suap-menyuap masih menjadi kebudayaan di negara dan perusahaan mereka. Korupsi hanya bisa diberantas dengan kesadaran yang dimulai sejak dari individu. Kecilnya individu bukan berarti tidak memiliki pengaruh apa-apa. Bahkan seringkali orang tersandung oleh batu kecil, bukan batu yang besar.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan tantangan kejujuran atas produktifitas. Guru besar Universitas Harvard, Filipe Campante dan David Yanagizawa Drott memberikan kesimpulan yang menarik dalam kajian perilaku umat muslim saat ramadhan. Kesimpulan tersebut adalah saat bulan ramadhan perekonomian bisa saja turun, namun justru tingkat kebahagiaan masyarakat meningkat. Setelah diteliti lebih mendalam mereka menemukan kesimpulan bahwa masyarakat muslim menyedekahkan uang yang disimpan selama puasa. Maka menurut Imam Al Ghazali golongan orang yang bersedekah saat bulan puasa ini yang diikuti dengan menahan seluruh anggota badan dari melakukan maksiat akan melatih masyarakat dalam berperilaku lebih baik dan terhindar dari kejahatan-kejahatan laten di atas

*Tulisan di atas telah terpublikasi di josstoday.com
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
       

Gambar: pasar modal amsterdam

 Ya, perusahaan yang saya maksud di atas adalah bernama Verenigde Oostindische Compagnie alias VOC. Saat kita masih di bangku sekolah selama paling tidak sembilan tahun, kita terus membahas bahwa VOC adalah penjahat yang merampas segala kebahagiaan nenek moyang kita, mulai dari harta hingga nyawanya. Namun penting bagi kita untuk mengetahui kontribusi model bisnis yang diciptakan oleh VOC hingga kemudian menjadi panutan model bisnis korporasi multinasional.

         Model operasi manajemen bisnis multinasional (Continues Improvement), yang dikendalikan oleh kompeni VOC ini akan menjadi dasar pembelajaran bagi perusahaan-perusahaan multinasional yang lahir berikutnya. Pasar modal amsterdam abad ke-17 juga merupakan cikal bakal berdirinya pasar modal London dan New York (Wall Street), yang kemudian akan menjadi tulang punggung kapitalisme global saat ini.

            VOC adalah perusahaan yang pertama kali melemparkan sahamnya ke publik di pasar modal Amsterdam. VOC adalah perusahaan terbesar dalam catatan sejarah pasar modal di bandingkan dengan perusahaan-perusahaan multinasional modern di abad ke-21.

           Grafik 1. perbandingan kapitalisasi pasar perusahaan terbesar dalam sejarah (2012)
Sumber: Bloomberg. Data disesuaikan tingkat inflasi tahun 2012

        Meski demikian VOC bukanlah satu-satunya perusahaan dagang internasional saat itu. Inggris memiliki East India Company atau EIC yang diberikan hak monopoli perdagangan di belahan bumi timur oleh Ratu Elizabeth I. Kedua perusahaan ini sempat mengalami kontak senjata di kepulauan Banda yang menewaskan 10 pegawai EIC dengan alasan wanprestasi di pihak EIC. Hal ini menyebabkan VOC bebas memonopoli rempah yang sangat dibutuhkan masyarakat eropa.

            Pasar modal pertama, Amsterdam Stock Exchange didirikan juga tahun 1602. Institusi ini memungkinkan penjualan saham VOC dijual untuk menambah pendanaan segar bagi perusahaan, juga jual beli kepemilikan saham. Pasar modal ini terus dikokohkan dengan pendirian Bank Amsterdam, Amsterdamsche Wisselbank pada tahun 1609. Dengan berdirinya Bank Amsterdam ini lahirlah berbagai portofolio keuangan seperti pendanaan untuk kapal kargo, provisi, asuransi pelayaran, penerbitan surat hutang, dan pengembangan nota perdagangan.

            Rendahnya tingkat bunga modal sangat membantu VOC dalam membiayai perdagangan melalui skelam hutang. Perusahaan ini membagikan deviden dengan nilai besar. Sistem permodalan swasta belanda ini kemudian mulai melahirkan kompetitor dari Inggris dengan sistem yang lebih baik pada abad ke-16.

            Tabel 1. Nilai bunga pinjaman di Belanda 1596-1620

            Walaupun mekanisme penawaran saham sudah mulai dijalankan sebelum VOC resmi didirikan, namun VOC-lah yang memperkenalkan mekanisme pembagian resiko kepada pemegang saham dimana memungkinkan perusahaan untuk mendanai operasi perusahaan dengan modal raksasa. Mekanisme pembagian resiko ini dibutuhkan untuk membatasi disitanya kepemilikan pribadi investor jika ternyata perusahaan pailit.

            Mekanisme semacam itu tidak terjadi di Spanyol, perancis, dan raja-raja lain saat meminjamkan modal dan tingkat bunganya relatif selalu tinggi. Rendahnya bunga pinjaman ini telah mencatat rekor level bunga terendah sepanjang sejarah.



           Gambar 1. Skema permodalan Spanyol, Inggris, portugis, dan Belanda tahun 1600-an

          Model di atas mendorong orang-orang belanda untuk tidak hanya menanamkan modalnya di perusahaan modal patungan semacam VOC mereka juga membeli surat hutang negara lain yang dari situ ternyata mendorong pendanaan Revolusi Amerika tahun 1700-an.


           Grafik 2. pergerakan investasi dan pendapatan investasi kumulatif (1595-1608)
sumber: Gelderblom, Oscar Jonker, Jost. 2004

         Aspek lain yang menarik dari VOC adalah sistem pembagian deviden. Beberapa bagian deviden dibayarkan dalam bentuk barang, bukan uang, dan memiliki banyak variasi. VOC membayarkan deviden sejumlah 71% dalam bentuk produk selama 7 tahun, lalu 5 tahun berikutnya dalam bentuk uang 19%, 3 tahun berikutnya dalam bentuk cengkeh senilai 41%, 44% dalam bentuk rempah di tahun 1638. Tahun 1644-1672, rata-rata 21,25% deviden dibagikan dalam bentuk uang. Sejak tahun 1676-1682, 4% surat hutang bisa menghasilkan margin sebesar 19,5% setiap tahunnya, sedangkan sejak 1683-1689 pembagian deviden dalam bentuk uang sebesar 10%. Nilai rata-rata deviden kisaran 18% dari modal awal, semala 200 tahun tahun rentang operasi VOC. Namun setelah tahun 1762 tidak ada lagi pembagian deviden.



            Grafik 3. Transfer pendapatan saham bulanan VOC (1603-1612)
Sumber:

        VOC juga mengubah pasar modal Amsterdam, menghasilkan inovasi-inovasi baru, semacam kontrak berjangka, opsi saham, shortselling, bahkan manipulasi perdagangan saham. Aksi goreng saham pertama kali dilakukan oleh Isaac le Maire, seorang pemegang saham VOC. Akibat dari aksi ini mengakibatkan kerugian di banyak investor lain, sedangkan dia meraup keuntungan yang besar. Hal ini kemudian mendorong pemerintah Belanda melarang shortselling dan manipulasi perdagangan lainnya pada tahun 1621, 1623, 1624, 1630, dan 1632. Meski demikian fakta di lapangan masih banyak pelaku pasar saham yang melakukan pelanggaran berulangkali.

Grafik 4. pergerakan saham kompeni VOC 1602-1798 (Ref: Global Financial Data)
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)

Negarawan Mendustakan Negara

            Ideologi bangsa Indonesia memiliki keragaman yang sangat tinggi dengan tingkat keragaman golongan yang banyak pula. Namun apapun keberagaman tersebut nampaknya telah disatukan sedemikian rupa oleh pendiri bangsa ini melalui doktrin kebangsaan dan doktrin kerakyatan. Doktrin kebangsaan itu adalah Bhinneka Tunggal Ika, yaitu pluralisme dan multikultualisme yang harus disatukan oleh “rasa bersama” dalam idiom negara persatuan dengan semangat nasionalisme di dalamnya. Sedangkan doktrin kerakyatan sama dengan demokrasi pancasila, yaitu mengakui keberadaan individu sebagai sosok “makhluk sosial” dalam kekolektifan.

            Politik sebagai kekuatan dalam pembangunan negara tidak hanya penjabaran doktrin kebangsaan dan doktrin kerakyatan, tetapi sekaligus menegaskan bahwa pembangunan nasional tidak hanya untuk mencapai peningkatan “nilai-tambah ekonomi” tetapi juga “nilai-tambah sosial-kultural”. Oleh karena itu, politik yang membangun negara adalah politik yang membangun manusia seutuhnya. Artinya pembangunan ini tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan angka-angka ekonomi belaka tetapi juga membangun manusia dalam arti luas secara merata.

            Kini pembangunan nasional dalam mewujudkan kesejahteraan memiliki tantangan ketika menghadapi globalisasi ekonomi. Politik yang tertulis di atas mengutamakan kepentingan nasional tanpa mengabaikan tanggung jawab global. Namun hal ini bertolak belakang dengan pengakuan majalah The Economist edisi bulan November 2013 bahwa toh di dalam globalisasi, di mana Negara-negara besar mengajurkan kerjasama ekonomi dan politik, toh terbukti negara-negara besar itu mewaspadai dan menghalau globalisasi manakala merugikan kepentingan negara-negara besar itu.

            Politik Indonesia nampaknya telah lupa dengan jati diri bangsa. Tidak banyak yang tahu hakikat “persaingan” dan “kerjasama”. “Persaingan” bermula dari pengutamaan kepentingan orang sebagai ciri utama liberalisme yang melahirkan individualisme. “Kerjasama” bermula dari paham kebersamaan (kolektivitas) yang mendorong niat untuk senantiasa bekerjasama bergotong-royong demi mencapai kepentingan bersama. Ideologi Indonesia adalah kebersamaan yang diwujudkan dengan bekerjasama, mengutamakan kepentingan bersama, saling bergotong-royong.

            Sesungguhnya paradigma nasional ekonomi Indonesia adalah kerakyatan yang merdeka dan bebas yang sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Sistem ini mengambil pijakannya dari Al Qur’an dan As Sunnah yang mempunyai sifat keadilan, kebebasan, kesatuan, keseimbangan, dan tanggung jawab. Di Indonesia kita mengenalnya sebagai ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan merupakan pengejawantahan ekonomi nasional dengan penekanan kepada sila ke-4 Pancasila. Menurut Frassminggi Kamasa, selama ekonomi kerakyatan ini bebas dari riba dan turunannya, itu akan sesuai dengan Islam. Inilah asas ekonomi nasional sebagaimana yang tercantum dalam penjelasan pasal 27 ayat 2, pasal 33, dan pasal 34 UUD 1945

            Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 mengatakan,”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Menurut Sri-Edi Swasono, guru besar Universitas Indonesia, orientasi konstitusi ini adalah pada pembukaan lapangan kerja (Pro-job) dan kehidupan yang layak bagi rakyat banyak (Pro-poor). Oleh karena itu, tujuan ekonomi kita bukan pertumbuhan ekonomi belaka dengan sistem ribawi, namun pro-job dan pro-poor yang merata.

            Pasal 33 UUD 1945 mengatakan, “(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat; (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pasal ini diatur dalam undang-undang.”

            Menurut Sri Edi Swasono Pasal 33 UUD 1945 ini menolak paham fundamentalisme pasar. Pasar adalah ekspresi selera dan kehendak si kaya yang memiliki tenaga daya beli. Oleh karena itu dalam sistem ekonomi yang propasar maka pola produksi dan konsumsi akan dibentuk sesuai dengan kehendak si kaya dan oleh perhitungan untung-rugi ekonomi. Inilah yang harus dihindari oleh negeri ini. Pembangunan nasional tidak seharusnya diserahkan pada kehendak pasar dan selera pasar, apalagi insting dasar (kerakusan) pasar.

            Demikian pula perlu kita catat bahwa pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara” menunaikan surat Al Maun. Hal ini menurut Sri Edi Swasono berarti bahwa definisi pembangunan telah terkoreksi dan berkembang kea rah people-centred dan humanism, harus kita sadari dan kita tuntut.

            Kenyataannya negeri ini sudah salah urus. Nampaknya huru-hara tahun 1998 telah menelurkan kerusakan sosial-ekonomi di mana-mana. Menurut A Riawan Amin, kesalahan masa lalu untuk berlutut pada IMF adalah kesalahan besar yang mendasar. Hutang tanpa batas yang diakibatkan oleh riba menjadikan Indonesia budak yang harus menaati segala keinginan IMF yang disebut Letter of Intent. Sejak saat itulah politik tidak pernah mengamalkan ekonomi Pancasila. Inilah pekerjaan pemerintahan selanjutnya. Seorang ekonom barat yang pro rakyat, Stiglitz, menganjurkan agar Indonesia berani bernegoisasi ulang atas karya tambang mineral dan batu bara (minerba) bila belum berani menasionalisasikan minerba kita.

            Sebuah pelajaran di luar ekonomi saat krisis 1998 seharusnya membuat kita tersadar. Tahun 1998 pertumbuhan ekonomi merosot -18,6% dalam setahun. Para ekonom ortodoks pesimis ekonomi nasional akan pulih kurang dari lima tahun. Namun keajaiban ekonomi di luar nalar ekono ortodoks terjadi, kurang dari dua tahun ekonomi nasional tumbuh 4,8%. Akhirnya diakui bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (ekonomi rakyat), memberi kotribusi yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi.

            Jadi, akan sangat ironis apabila ekonomi rakyat dan ekonomi Pancasila harus dipangkas oleh perintah IMF yang berbasis riba dan ketidakadilan.  Bila dibandingkan perjuangan ekonomi rakyat dalam menyelamatkan Indonesia, perjuangan pemerintah “bermental pengemis” sangatlah tidak pantas. Sudah waktunya untuk menghentikan permainan politik ini melalui ekonomi syariah sebagai satu-satu sistem ekonomi yang prorakyat dan sesuai dengan ekonomi Pancasila.

Written By: Khoirul Zadid Taqwa
Mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Airlangga



Daftar Pustaka
Amin, A Riawan.2007.Satanic Finance. Jakarta : Celestial Publishing
Kamassa, Frassminggi.2012.The Age of Deception: Riba dana Globalisasi Ekonomi, politik, global, dan Indonesia.Jakarta. Gema Insani
Swasono, Sri-edi.2013. Doktrin Pembangunan Nasional Indonesia. Depok : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia


Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
#One of Satanic Finance Pillars : RIBA
Maaf saya disini hanya mengulas 1 pilar saja, yaitu riba. Pillar ini adalah pillar yang paling mudah dirobohkan daripada pilar yang lain. Gue gak bahas ini dalam-dalam secara praktikal dan teori di keuangan, tetapi lebih menyoroti dari segi keadilan dalam sistem ribawi dan bagi hasil. Banyak orang bilang sistem ribawi ini membuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin, itulah namanya sistem kapitalis. Banyak pula yang beralasan, kalau nggak ada bunga terus orang perbankan hidup dari uang mana? Yang lebih pinter lagi, pertanyaannya adalah bunga adalah sebagai suatu instrumen untuk mengatur moneter. Kalau bunga dicabut berarti tidak ada yang bisa mengerem inflasi dong?

Rumit ya jawabnya? Padahal yang bilang itu mahasiswa semester 1. Tapi pinter banget ya? Well, prinsip keadilan tak terbantahkan. Fungsi bank sebagai lembaga intermediaries berarti menyalurkan Dana Pihak Ketiga (dana nasabah) kepada kreditur. Bank mengambil margin dari kreditur dan membagikan margin itu kepada bank itu sendiri dan nasabah. Kalau di konvensional disebut bunga dan spread, sedangkan di bank syariah disebut nisbah. Apa bedanya?

Bunga bank berbeda-beda. Ada yang fix, ada juga yang floating. Fix berarti udah ditentukan di awal dan tidak berubah-ubah, floating berarti mengikuti kondisi pasar. Penetapan bunga bank berdasarkan atas pinjaman yang diberikan kepada kreditur. Misal bank meminjamkan uang 100 juta kepada Mr. X dengan bunga 10%, maka setiap dia nyetor (biasanya bulanan sih) dia harus nyetor 10 juta ditambah angsuran bulanan yang pokok. Hal ini tidak adil menurut gue karena gak peduli Mr X usahanya untuk gede atau rugi tarikannya tetap tidak lebih dari itu. Kalo floating ngga gede-gede amat. Asumsi Mr.X untung 1 M bulan ini, bulan depan profitnya menjadi 1,5 M berarti bank rugi dong, dia gak ada pertambahan keuntungan dari prningkatan profit Mr. X sebesar 0,5 M. Apalagi nasabahnya. Asumsi Mr. X (minus 1 M) bulan ini, yaudah masuk penjara aja om. Adilkah sistem ini?


Sedangkan sistem bagi hasil memang tidak pasti. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kepastian hari esok (Lukman: 36). Untung-rugi juga gak pasti. Jadi penetapan bagi hasil adalah profit, tetapi karena moral hazard dan prinsip kehati-hatian maka penetapannya masih berdasarkan revenue alias omzet. Bila contoh di atas memakai sistem bagi hasil maka bila Mr X bisnisnya sukses besar dengan peningkatan revenue yang tinggi maka nisbah bagi hasil antara perbankan dengan Mr. X menjadi lebih besar. Akhirnya nasabah bank syariah menerima hasil mudharabah yang lebih besar juga

Masih pilih bank ribawi? 
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
#Polemik Mudarabah

Mudharabah atau mudah roboh? Bercanda peace...
Buat elo yang pakek bercanda ini silakan, tapi ini adalah produk yang paling murah sekaligus memiliki resiko yang paling besar, mengapa? Karena produk ini membutuhkan kepercayaan tingkat tinggi. Bila dilihat dari sisi pengusaha, maka bisa saja laporan laba rugi dicurangi dengan memanipulasi laba serendah mungkin sehingga pembagian nisbah menjadi sangat kecil. Akhirnya perbankan syariah yang dirugikan. Bila dilihat dari sisi perbankan, ketika perusahaan kreditur kolaps, siapkah pihak bank menanggung kerugian 100%? (kerugian faktor eksternal). Bila dilihat dari sisi nasabah, apakah nasabah siap melihat buku tabungan yang ber-akad mudharabah tiba-tiba memiliki saldo zero? Itu semua masalah moral. Ada yang bilang konsep ini mustahil diterapkan, namun sejarah menjawab bahwa pada abad ke 7 pemerintahan Islam mampu mengaplikasikan sistem ini.


Solusi gue, bagi elo yang pengen kerja di lembaga keuangan atau ekonomi atau pembuatan kebijakan jangan pernah bekerja  cuman disektor itu. Jadikan diri elo adalah agen pemberi pinjaman sekaligus peminta pinjaman (akad mudharabah). Nah kalau elo ingin pinjam, otomatis elo harus jadi pengusaha dulu baru bisa pinjem ke lembaga keuangan tempat elo bekerja. Masa sama diri sendiri kagak percaya? Kalau sudah begitu, gue doakan karier elo lebih lancar jadi inspirasi ekonomi syariah umat muslim
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
Rasionalisasi mahal-murah

Satu hal yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam adalah Akad. Pembeda antara satu hal yang halal dan haram adalah akad (niat). Selain itu niat juga mempengaruhi besaran pahala yang didapat.

            Sekarang gunakan rasio (logika) elo, mana yang elo pilih,daging sapi seharga 10.000 dengan daging babi seharga 5.000 dengan berat yang sama dan kualitas yang sama-sama terbaik dengan mengabaikan selera. Ketika dianalisis harga, logisnya adalah pilih yang murah yang penting kenyang (anak kosan banget). Tapi ketahuilah saudara, mengabdi kepada Allah adalah tujuan kita hadir di dunia ini (adzariyat: 56) sedangkan manusia yang terbaik dihadapan Allah adalah manusia yang paling bertaqwa (Al hujurat: 13). Pantaskah dengan nikmat Allah yang telah diberikan dari Allah digunakan dengan seenak perut elo? Think Again!


           Contoh lain yang paling mudah dicerna, adalah masalah seks. Seks maksud gue disini adalah hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Apakah boleh? Its depend on akad. Kalau udah menikah hal itu halal karena sudah diikat oleh akad dan memiliki berkah yang banyak. Nah kalo belum, apakah boleh? Of course NO! Bukan hanya alasan boleh atau tidak, tetapi rantai penderitaan siap melilit hidup elo. Penderitaan dari segi kesehatan, sosial, dan masalah dunia lainnya. Kalo elo percaya sama akhirat mending pakek yang ada akadnya aja deh, kan bisa dapet lebih dari 70 bidadari surga.  Jadi pilih mana? Think Again!

         Suatu hari ada seorang buruh bangunan yang sama-sama menata bata untuk membangun masjid. Mereka ditanya dengan pertanyaan yang sama, Apa yang Anda lakukan dan untuk apa? Pertanyaan ini menunjukkan niat mereka. Buruh yang pertama menjawab, seperti yang Anda lihat saya sedang menata bangunan untuk membangun masjid. Buruh kedua menjawab, saya sedang membangun masjid untuk orang-orang sholat. Sedangkan buruh yang terakhir menjawab, saya sedang membangun masjid sebagai pusat peradaban. Maka kata Rasulullah, dari mereka yang mendapatkan pahala yang terbesar adalah buruh yang ketiga.


Sekarang mau pilih mana?
#Sudah ada bank syariah kok masih pakai bank konvensional?
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
#Alasan pertama: Perdebatan pembiayaan yang ruwet, belum syar’i 100%, mahal, gak efisien..
Analisis Penawaran dan Permintaan

                Pembiayaan yang mahal? Lombok, apel, dan durian aja bisa mahal apalagi pembiayaan perbankan? Well, saya coba menganalisis melalui model penawaran dan permintaan.

          
          Seperti pada hukum permintaan dan penawaran, sebuah produk akan menjadi mahal bila supply rendah dan sebaliknya. Pada saat musim buah durian, maka harga durian akan rendah begitupun sebaliknya ketika supply buah durian rendah maka akan menjadi mahal. Perbankan syariah yang pada awalnya hanya ada satu bank pada tahun 1992 dan menjadi banyak ketika 1998 sudah pasti mahal dibandingkan perbankan konvensional yang sudah menjamur dimana-mana sejak Indonesia merdeka.

             Pertama saya acungkan jempol buat yang udah bilang ini, tetapi kalau boleh tanya, bagian mana yang kurang syar’i? Selama mempelajari MK Islam emang ada beberapa namun itu ditujukan agar bank syariah mampu bersaing dengan bank konvensional yang murah tapi berbunga.  Masalahnya kembali ke poin yang pertama yaitu, produk baru untuk masuk pasar tidak akan secara langsung mendapat respon baik dari masyarakat. Akhirnya ketika permintaan masih renah mengakibatkan produk bank syariah menjadi mahal, sedangkan mindset masyarakat adalah yang penting murah dan tidak berorientasi pada Agama.

Solusi produk perbankan yang mahal dan nisbah yang kecil adalah dengan memperbanyak simpanan Anda di bank syariah dan sering-seringlah main kesana, maka supply dari perbankan syariah akan tinggi merespon permintaan yang tinggi akhirnya mampu memberikan pembiayaan yang murah dengan nisbah kepada nasabah yang besar juga
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
Indonesia itu surga bagi dunia. Kekayaan melimpah, masyarakatnyapun juga ramah, tetapi masih lemah. Orang luar negeri menyebut Indonesia dengan “The Sleeping Giant”. Entah sejak kapan karakter orang Indonesia selalu sleeping. Saya dengar kerajaan Singasari adalah karakter orang Indonesia kalau kerja beneran. Ya, soal ideologi adalah dasar dari semangat perjuangan orang dahulu.

                Well, kita jalan-jalan ke luar negeri dahulu. Di dunia ini ada beberapa negara yang mengaku bahwa ekonominya udah sesuai dengan syariah, saya bilang Amiin. Mereka adalah Pakistan, Iran, Sudan, dan Saudi Arabia. Mereka tidak menerapkan sistem dual banking. Semua perbankan disana sudah syariah. Gue akuin masuk akal dan mudah direalisasikan karena mayoritas mereka adalah muslim. Tetapi negara yang menguasai dunia mengobrak-abrik negara-negara itu melalui sistem politiknya jadi terlihat negara yang  menerapkan sistem ekonomi Islam tidak patut dicontoh.

                Gue acungin jempol sama Malaysia yang politiknya jos. Kesadaran berekonomi Islam muncul dari pemerintah alias top down system. Malaysia industrinya juga maju. Oleh karena itu mereka memiliki spesialisasi ekonomi Islamnya di sukuk.

                Halo Indonesia, How are you? Muslimnya 78,5% kalau nggak salah. Bila dibandingkan dengan negara muslim lainnya kita lah yang paling besar muslimnya. Keberadaan UMKM kelas menengah ke bawah sebesar 99%. Sedangkan bisnis sektor informal sangat besar sekali. Hal inilah seharusnya menjadi spesialisasi Indonesia sebagai pencetus Islamic Microfinance. Bila di Bangladesh adalah Mit Grameen Bank, maka Indonesia harus bisa membuat Islamic Microfinance Institution yang mantap. Sayangnya kita musti agresi militer tingkat tinggi kalau mau hal ini terealisasi. Model berkembangnya ekonomi Islam di Indonesia kan Bottom Up (Dari rakyat bawah, mahasiswa, akademisi hingga ke pemerintahan). Sejak dahulu tahun 2008 target pangsa ekonomi Islam 5% masih belum tercapai.


                Wahai ekonom rabbani, ini adalah ladang amalmu. Saya tidak habis piker juga ketika mencoba mensosialisasi ekonomi Islam. Tak perlu jauh-jauh, hanya ke orang tua, kakak, maupun adik. Logika mereka menganut logika banker konvensional. Its okay, but I will face this chalangge! 
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)

Ciluuk, baa  ...  Afwan udah lama nggak update blogsnya
Well, ada banyak hal sebenarnya yang pengen gue share.. organisasi, Islam, politik, ekonomi dan sebagainya..
Nah, tau ngga di Indonesia ini kalau ngomongin ekonomi tuh serba-salah (gue baru tahu).

Dont u Know how rich Indonesian people?
Mr Y bilang, orang Indonesia itu udah sejahtera kok. Apalagi di jaman serba smartphone kayak gini masak masih pedalaman. (padahal di korea pengguna smartphone mencapai 78%, nah di Indonesia?) Sekarang tuh orang sudah bisa makan kok, udah punya rumah dan bla..bla..bla..
Ukuran kesejahteraan itu memang abstrak banget. Kayak nebak pacar yang lu bonceng sambil bete, terus lo nanya “sayang kamu kenapa?” Then she answer “ga pa pa”. Terus lo berusaha care “kamu lagi bete ya?” She answer “Pikir aja sendiri...”
Menebak perasaan senang atau sedih kadang bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Itu cuman satu cewek, eh pacar. Apalagi kalo kesejahteraan negara. Orang-orang yang ditangkep KPK itu kalo ditanya “Pak, lo udah mapan belum, udah sejahtera belum?” Mungkin karena malu, mereka ngejawab “udah”. Padahal dibuktikan dengan kelakuannya yang nista itu menunjukkan pola pikir sejahtera yang masih belum terdefinisikan dengan baik.
Lo tau ngga, sang pencipta semesta ini (selanjutnya ane pakai Allah) cuman menciptakan dua keadaan manusia. Yaitu dalam keadaan kaya raya dan cukup. Kalo menurut gue  dua-duanya itu adalah sejahtera. Cuman keadaan cukup itu tergantung di hati elo.
Keadaan yang melebihi dari cukup dengan penggunaan yang boros (tidak perlu) itu namanya mubadzir. Kelakuan yang seperti ini nih yang bikin tempat sampah overdosis akhirnya jadi banjir kayak di Jakarta. Masih inget dengan kebiasaan tahun baru dengan kegiatan mubadzir ria? Yah begtulah...

Kira-kira apa sih batas mubadzir?
Menurut dosen gue (Pak Suherman Rosyidi) itu segala sesuatu yang tidak ditujukan untuk Allah. Elo ngasih duit ke orang miskin itu sedekah kalo niatnya biar orang miskin itu tambah bahagia (titik). Lain lagi kalo elo ngasih duit ke orang miskin biar elo dipilih jadi kepala desa. Itu SUAP!

Apa sih Suap itu?
Yaitu suatu kegiatan untuk mengambil hak orang lain dengan cara yang batil. Itu penerjemahan gue dari Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 188. Terus kalo kita mau ngundang ustad buat tahlilan itu kan musti kasih jajan atau sangu. Nah lo, gimana? Kayaknya musti memahami apa bedanya sedekah, infaq, hadiah, dan suap deh.. (pikiren dewe xD)

INEFFICIENT!
Ribet, mahal, KW...!
Biasalah, emang elo siapa? Ngaca deh ...
Berurusan dengan petinggi yang agak nyebelin di Indonesia itu banyak, soalnya persepsi mereka tentang masyarakt umum adalah kurang baik. Padahal ketidakefisienan kebijakan itulah yang ngebuat orang “terpaksa” ngga disiplin. So far, so bad ...
Kadang pengagguran itu nyari kerja juga kerjaan yang buat orang ribet dan menguras kantong. Tempo lalu pas gue lagi di kereta, gue diceritain kalo di Hongkong setiap tukang bawa barang itu gratis, klo di Indonesia minta bayaran. Contoh yang paling deket adalah tukang parkir di Indo***** (SENSOR). Udah tau parkiran bebas parkir masih aja ditarik. Yaudah jatuhnya jadi sedekah. Kalo elo ikhlas sih...

Back to the top
Well, 2015 udah didepan mata. Disana ada AEC (ASEAN Economic Cooperation) alias perdagangan bebas di kawasan ASEAN. Sedangkan ada APEC 2020 (Asia Pasific Economic Cooperation) alias perdagangan bebas dengan Asia Pasifik termasuk Amerika. Sudah siap? Intropeksi aja yah.. Entah presiden macam apa yang kepilih sedikit banyak pasti pengaruhnya penting banget. Tapi kalo elo punya pengertian kayak Mr Y,,, LAOD aja please ...
Elo sekarang masih sekolah? Kuliah? Entar lo lulus kurang berapa taon lagi? Apa kontribusimu buat negara? Apa yang jadi nilai plus-mu? Atau jangan-jangan elo mau kabur ke luar negeri cari gaji yang gede daripada di Indonesia?
Sejarah memang membuktikan banyak orang pintar dicelakakan di Indonesia. Itu harus kita akui tapi bukan untuk kita tiru. Sejarah juga membuktikan bahwa tambang-tambang di Indonesia banyak dimiliki asing, terus pegawainya dari Indonesia dibayar murah (entah ini suatu kelebihan atau kebodohan Indonesia) mungkin karena perasaan yang sudah bekecukupan. Yang paling tragis BUMN yang berharga dijual (emang serba salah sih kondisi waktu itu). Kalo di bidang politik, pencipta pancasila malah menghancurkan pancasila. How crazy are u? Ditambah lagi pendidikan yang banyak menutupi kebenaran (Pernahkah Anda mendapatkan pelajaran sejarah Indonesia kisah buya hamka, kalo udah gue ucapkan selamat!.... Pernahkah Anda mendapatkan pelajaran ekonomi kalo bunga itu membuat perekonomian tidak efisien? Kasian deh lu). Bukan maksud gue memojokkan salah satu kelompok, tetapi sejarah merupakan evaluasi kita agar tidak terjebak di lubang yang sama.
Tahukah kalo setiap kelompok, organisasi, bangsa, negara, bahkan agama ada yang berusaha menghacurkannya? Itu pasti! Dan elo tahu cara yang paling utama? Yaitu membodohi mereka, menghilangkan moral mereka dengan tujuannya satu: hilangkan jati dirinya. Jadikan mereka bingung atas eksistensi dirinya sehingga akan hancur sendiri karena kerusuhan internal. Jurus ini jurus yang udah kadaluarsa dan sering terjadi pada abad ke 14. Tapi tidakkah kamu berpikir? (sebuah kata-kata ejekan yang biasa dilontarkan Allah kepada manusia yang berilmu tetapi tidak sadar).

Back to kesejahteraan.
Kesejahteraan menurut gue terjadi ketika keadaan perekonomian seimbang. Masalahnya perekonomian itu ga bakal seimbang. Maksud ane seimbang itu sama dengan adil dalam pembagian hak-haknya. Hak orang kaya adalah apa yang dikonsumsi (tentu tidak mubadzir). Selain yang dikonsumsi bukanlah rezeki (Ibn Taimiyah). Kalo di Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 219 sangat menganjurkan seseorang yang memiliki kelebihan dana untuk menginfakkan hartanya sehingga kesejahteraan akan tersebar ke masyarakat miskin.
Bila ditinjau dengan teori utilitas (nilai guna), 2,5% harta orang kaya memiliki nilai guna yang rendah di mata orang kaya, tetapi memiliki nilai berharga di mata orang miskin. Misal seorang PNS yang gajinya 2.000.000 (biasanya sih lebih). 2,5% dari gaji itu adalah Rp 50.000. bayangkan kalo Rp 50.000 itu diberikan tukang rosokan yang pendapatannya kisaran 50.000 perbulan tentu akan sangat berharga di mata mereka.
Menurut Abraham Maslow hierarki piramida kebutuhan dibagi menjadi 5 tingkatan. Yaitu:
1.  Kebutuhan Fisiologis
Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.
2.  Kebutuhan Keamanan
Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.
3.  Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.
4.  Kebutuhan Esteem
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.
5.  Kebutuhan Aktualisasi Diri
Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Namun ada 1 hal yang dilupakan oleh Maslow, yiatu faith
Every body has faith, whatever they come from they admit that the God is there
Oleh karena itu Imam As Syaitabi memiliki 3 hierarki kebutuhan.
    1.  Dharuriyat
Kebutuhan Dharuriyat mencakup kebutuhan dasar manusia, yaitu sandang papan dan pangan. Kebutuhan dasar ini biasa dikenal sebagai kebutuhan pokok yang mencakup kegiatan religius
    2.  Hajiyat
Merupakan kebutuhan tambahan berbentuk kemudahan dalam mengakses kebutuhan dasar tersebut. Misal ketika seseorang memenuhi kebutuhan dasarnya hanya dengan makanan halal yang kurang bergizi, sekarang ditambah dengan gizi yang tinggi
   3.  Tahsiniyat
Merupakan kebutuhan tersier yang memiliki daya guna (utility) yang tinggi. Hal ini biasanya mengikuti dengan gaya hidup orangnya. Misal seorang pejabat yang tidak memiliki cukup waktu untuk makan di rumah, tentu dengan makan di restoran mampu meningkatkan gizi orang tersebut sehingga dalam kinerjanya dapat memperoleh hasil yang maksimal

Then, How About Gini Ratio?
Rasio gini atau sering disebut indeks gini merupakan indeks atau tolok ukur dalam mengukur kesejahteraan suatu bangsa.


Teori ini sederhana banget. Intinya sama dengan keseimbangan yang ane tulis di atas. Yaitu satu orang seharusnya mendapatkan satu roti untuk makan, tetapi dalam perhitungan rasio gini tidak akan dicapai persamaan itu

Mungkin bisa dijelaskan dengan gambar kurva di bawah, dimana warna hijau adalah keadaan kesejahteraan yang tinggi dimana distribusi roti merata (pendapatan masing-masing individu rata) sedangkan warna kuning merupakan kondisi yang biasa terjadi. Warna merah adalah kondisi kesejahteraan yang memiliki ketimpangan yang paling tinggi


Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
KEUNGGULAN PERBANKAN SYARIAH SEBAGAI SOLUSI YANG MENGUNTUNGKAN UNTUK PERMASALAHAN EKONOMI INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim

Kemiskinan merupakan masalah ekonomi utama yang harus dipecahkan.Menurut Komite Ekonomi Nasional (KEN) angka pertumbuhan GDP, pengagguran, dan kemiskinan menunjukkan pertumbuhan yang baik.Namun sebaliknya, jurang kemiskinan semakin mendalam. Pada tahun 2009 indeks jurang kemiskinan (indeks gini) menunjukkan angka 0,37 kemudian pada tahun 2010 menunjukkan 0,38 hingga akhirnya pada tahun 2011 menunjukkan angka 0,41. Hal ini menunjukkan terdapat ketidakadilan dalam sebuah perekonomian bangsa ini.

            Nampaknya kemiskinan merupakan imbas dari sebuah krisis ekonomi. Sedangkan, sebuah krisis ekonomi disebabkan oleh sistem finansial yang buruk .Hal ini dimulai pada saat bank pertama di Venice Italia dibangun. Kemudian peristiwa ini berhasil mengambil hati masyarakat dunia karena melalui lembaga penyalur dana ini perekonomian sebuah negara bergerak lebih cepat. Namun, fungsi lembaga penyalur dana ini disalahgunakan oleh beberapa reformis liberal pada tahun 1600-1838.Tidak hanya itu, mereka juga mampu mempengaruhi pelanggan perbankan untuk menghalalkan riba.Hal ini kemudian diterapkan diberbagai lembaga keuangan. Tidak hanya itu, pada tahun 1971 Amerika juga mengkhianati perjanjian Bretton Woods yang berisi semua fiatmoney yang beredar harus ditopang oleh emas. Hal ini kemudian memicu percetakan uang untuk mencetak uang lebih banyak lagi tanpa ada penopang.Oleh karena itu lengkap sudah perangkap finansial setan yang terdiri dari fiat money, reserve requirement, dan bunga.

            Dasar dari masalah tersebut adalah fiat money. Namun sistem di dunia ini masih menggunakan sistem kombinasi antara fiat money, reserve requirement, dan bunga sehingga akan sangat sulit untuk mengubah pola piker masyarakat dunia yang sudah terbiasa dengan sistem ini. Selain itu masih banyak masyarakat yang belum mengetahui akan permasalahan ini sehingga untuk mengupas sistem finansial setan ini dibutuhkan beberapa langkah. Salah satu langkah yang paling efektif adalah menghilangkan bunga bank di sektor finansial.


            
.
            Bunga bank sangatlah mengerikan.Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia yang mengambil riba dari utang piutang seperti manusia yang kerasukan setan hingga gila, bahkan tidak dapat berdiri dengan baik.Mereka semakin ketagihan dengan kekayaan yang mereka dapatkan dari sistem riba. Oleh karena itu sistem riba ini akan membawa kehancuran ekonomi

Sekali lagi bunga merupakan penyakit ekonomi yang sangat bebahaya.Pada saat itu, banyak sekali terjadi penarikan tabungan oleh nasabah (rush) karena beredar isu bahwa return bunga dari kreditur lebih kecil daripada return bunga dari bank ke debitur (negative spread). Hal ini merupakan sebuah konsekuensi dari kebijakan peningkatan suku bunga bank.

Sebagai contoh goncangan ekonomi yang dahsyat adalah krisis ekonomi 1997 yang melanda ASEAN.Krisis ini mengakibatkan kreditur banyak yang mengalami gagal bayar.Oleh arena itu, Presiden Soeharto menggunakan cara meningkatkan suku bunga untuk memulihkan perekonomian Indonesia.
Dengan melihat permasalahan yang terjadi dengan adanya bunga bank sebagai penyebab terjadinya krisis ekonomi bahwa penulis semakin menyadari bahwa ekonomiislam sebagai solusi atas masalah-masalah ekonomi, maka penulis dalam karya tulis ini menganggkat perbankan syariah sebagai solusi mengatasi krisis dan memajukan ekonomi yang lebih baik.

           Menurut UU no. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Prinsip utama dalam praktek perbankan syariah adalah sistem bagi hasil (Profit/Loss Sharing).

Riba secara bahasa berarti az-ziyadah (tambahan) (Antonio, 2011).Adapun menurut kamus istilah ekonomi Islam Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES), riba adalah transaksi dengan pengambilan tambahan, baik dalam transaksi pinjam-meminjam atau jual-beli secara batil atau bertentangan dengan Islam.Secara umum riba ialah tambahan yang timbul dari setiap kegiatan jual-beli atau utang-piutang yang menimbulkan tambahan pada salah satu pihak saja.Bentuk riba yang umum ditemui dalam kegiatan ekonomi modern adalah bunga pada bank konvensional

             Solusi atas dihilangkannya bunga adalah bagi hasil dimana mekanisme tentang bagi hasil dapat dilihat di bagan di bawah ini.


Sumber: Bank Indonesia

            Bagan diatas terlihat bahwa bank syariah melakukan penghimpunan dana kepada nasabah dengan berbagai akad seperti wadiah yad dhamanah dimana akadnya bahwa dana yang dihimpun dapat di kelola oleh bank syariah., Mudharabah Mutlaqah akad ini membebaskan bank syariah untuk melakukan berbagai investasi tetapi sesuai syariah, ada pula akad ijarah, modal Dll. Dari berbagai akad ini penyaluran dana mempunyai pembagian pos penyaluran dana sesuai prinsip masing-masing seperti Wadiah Yad Dhamanah memiliki prinisp dana yaitu bagi hasil, mudharabah Mutlaqah mempunyai prinsip jual beli, sedangkan akd seperti Ijarah, Modal dll memiliki prinsip sewa.

            Mayoritas bank syaraih saat ini menggunakan akad Mudharabah Mutlaqah yang berprinsip jual beli.pada saat Mudharib atau peminjam dana meminjam dari bank syariah amak akan dilakukan perjajian untuk menentukan bagi hasil, maka dari perjanjian tersebut bank syariah mendapat keuntungan dari bagi hasil yang telah di sepakati diawal. Setelah mendapat kankeuntungan dari perjanjian tersebut maka selanjutnya bank syaraih melakukan penghitungan bagi hasil dengan nasabah yang mempercayakan dananya pada bank syariah. Lalu bagi hasil diserah kan pada pemilik dana sesuai dengan akad yang telah dibuat, setlah itu dibuat laporan laba rugi nya. Dapt dilihat disini bahwa konsep bagi hasil menguntungkan kedua belah pihak tanpa merugikan salah satu pihak sehingga terjadi keseimbangan ekonomi baik.

Berdasarkan penjelasan tentang mekanisme operasi perbankan syariah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka secara mikro dapat dikatakan bahwa perbankan syariah sangat cocok sebagai lembaga intermediasi keuangan.Hal ini disebabkan beragam akad/kontrak yang terdapat di perbankan syariah bertumpu pada kerjasama pihak perbankan syariah dengan nasabah sehingga kezhaliman di antara para pihak dapat diminimalkan bahkan dihilangkan.

Adapun secara makro, perbankan syariah sebagai lembaga inti dalam sistem keuangan syariah di Indonesia dapat berperan sebagai lembaga yang berfungsi menjalankan distribusi dan re-distribusi pendapatan di dalam masyarakat sesuai arahan Alquran di surah Al Hasyr (59) ayat 7 yang berbunyi:
“ ...supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu....”
Fungsi distribusi pendapatan dapat dilakukan perbankan syariah berjalan melalui mekanisme berbagai akad yang sifatnya tijari (komersial) yang terdapat di dalam perbankan syariah.Fungsi re-distribusi pendapatan dapat dijalankan melalui mekanisme akad-akad tabarru’ (kebajikan) dan melalui perangkat ZISWAF (zakat, infaq, sedekah, dan wakaf) yang merupakan keunikan dari sistem ekonomi Islam.Adanya dua fungsi di atas tidak terlepas dari sifat usaha perbankan syariah yang terdiri atas.
1.      Bisnis, terlihat pada akad-akad komersial
2.      Sosial, terlihat pada akad-akad kebajikan
3.      Dakwah, terlihat dari mekanisme ZISWAF dan tampilnya syiar Islam di dalam perbankan syariah

Berdasarkan penjelasan di atas, maka perbankan syariah yang berjalan secara optimal akan mampu memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia, yaitu:
1.      Fungsi distribusi pendapatan akan memberi manfaat berupa pemerataan dana di dalam masyarakat sehingga mampu meningkatkan tingkat investasi di masyarakat. Maka, keinginan pemerintah untuk mewujudkan keuangan inklusif dapat terwujud.
2.      Fungsi re-distribusi pendapatan dapat membantu masyarakat yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan usaha sehingga daya beli masyarakat dapat meningkat dan Indonesia dapat mewujudkan pemerataan pendapatan yang berkeadilan dan menurunkan nilai indeks GINI.



PENUTUP
Kesimpulan
1.      Berdasarkan uraian di atas, mekanisme operasional perbankan syariah berprinsip pada sistem bagi hasil (profit/loss sharing). Sistem ini dengan akad utama yaitu mudharabah akan mampu menguntungkan para pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut.

2.      Perbankan syariah mampu berperan dalam mendorong perekonomian nasional karena perbankan syariah memiliki fungsi distribusi dan re-distribusi pendapatan melalui akad-akad yang bersifat komersial dan kebajikan. Hal ini akan mampu mendorong terwujudnya pemerataan pendapatan secara adil dan berkeadilan

Saran
1.      Sosialisasi terkait perbankan syariah harus lebih digencarkan sehingga manfaat dari perbankan syariah dapat dirasakan secara luas di masyarakat luas.

2.      Perbankan syariah bersama para pemangku kebijakan harus mampu berkoordinasi sehingga sistem perbankan syariah dapat menjalankan fungsinya sebagai sarana pemberdayaan ekonomi dan pemerataan ekonomi masyarakat

3.      Masyarakat harus berperan aktif agar peran perbankan syariah dapat terwujud sehingga manfaatnya dapat kembali kepada masyarakat
  

References

Anonim.2011.Materi Kuliah Kebanksentralan.
Chapra,Umer M. 1997. Alquran : Menuju Sistem Moneter Yang Adil. Dhana Bakti Prima Yasa : Yogyakarta

Kamel, Ahamed. 2002. The Islamic Gold Dinar. Pelanduk Publication : Selangor

Komite Ekonomi Nasional http://unair.ac.id/unair_v1/filer/Kuliah%20Umum%20I%20-%20Chairul%20Tanjung%20-%204%20Juni%202013-Final.pdf. Diakses tanggal 4 Juni 2013
Riawan,A. 2007. Satanic Finance. Celestial Publishing

Sami’, Abdul. 2006. Pilar-Pilar Ekonomi Islam. Pustaka Pelajar : Yogjakarta

Sarkaniputra, Murasa.1999. Pengantar Ekonomi Islam. IAIN Syarif Hidayatullah : Jakarta

Swasono,sri edi.2013.Doktrin Pembangunan Nasional Indonesia.Depok.Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia





Written By:
Imam Wahyudi Indrawan
Khoirul Zadid Taqwa
Andika Ramadhanu

This essay published in GRES! Competition in Solo Central Java
Wrote by الخىر الزادد التقوا (Khoirul Zadid Taqwa)
Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

Khoirul Zadid Taqwa LINE: zadidtaqwa zadidtaqwa@gmail.com

LATEST POSTS

  • Hubungan Marginal Cost (MC) dan Kurva Penawaran
    Hubungan Marginal Cost (MC) dan Kurva Penawaran             Pada jangka pendek, perusahaan akan memaksimalkan labanya dengan memili...
  • Peluang, Tantangan MEA 2015
    Sebelumnya apa sih MEA itu? MEA adalah kepanjangan dari Masyarakat Ekonomi Asean. Ini merupakan suatu kesepakatan sebagai bentuk pengua...
  • Upah Buruh dalam Perspektif Islam
    Intinya curhatanku pas ngerjain study case ... ini Videonya Upah Buruh, Sebuah Telaah dalam Perspektif Syariah Bismillahirrahmani...
  • Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pascadepresiasi Rupiah 10 %
    Terdepresiasinya rupiah hingga 10% telah terjadi pada Hari Kamis 22 Agustus 2013. Hal ini mengakibatkan harga dasar untuk 1 US Dollar s...
  • KEUNGGULAN PERBANKAN SYARIAH SEBAGAI SOLUSI YANG MENGUNTUNGKAN UNTUK PERMASALAHAN EKONOMI
    KEUNGGULAN PERBANKAN SYARIAH SEBAGAI SOLUSI YANG MENGUNTUNGKAN UNTUK PERMASALAHAN EKONOMI INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim Kem...
  • Prospek, Pasar, dan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Ekonomi Islam
    Prospek, Pasar, dan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Ekonomi Islam   Untuk Anda yang baru memasuki dunia ekonomi Islam mungk...
  • Apa sih Deliberate Practice ( gue singkat DP) ?
    Great performance is more valuable than ever — but where does it really come from? -Geoff Colvin- Kali ini gw bakal ngenalin konsep belajar ...
  • Lahirnya Perusahaan Multinasional dan Pasar Modal Pertama di Dunia
            Gambar:  pasar modal amsterdam  Ya, perusahaan yang saya maksud di atas adalah bernama Verenigde Oostindische Compagnie ...
  • Logika Memahami Ekonomi Islam, Started from The Sleeping Giant
    Indonesia itu surga bagi dunia. Kekayaan melimpah, masyarakatnyapun juga ramah, tetapi masih lemah. Orang luar negeri menyebut Indonesia...
  • Belajarku : Cara Belajar Versi Gue
    Maaf aku ngga jelasin gambar disamping karena itulah teorinya, tetapi tulisan ini cenderung bercerita seputar pengalamanku. Well, aku y...

Categories

  • Economics
  • Islamic
  • Islamic Economics
  • Others

Advertisement

Research | Travelling |Video Editting | Video Maker
Powered by Blogger.

Labels

  • Economics ( 23 )
  • Islamic ( 2 )
  • Islamic Economics ( 9 )
  • Others ( 23 )

Ads

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Goresan Tinta Zadid. Designed by OddThemes & Blogger Templates